Julang Jambul Hitam

Umumnya terbang bersama pasangannya ketika dewasa, atau dalam kelompok kecil; 3-30 individu. Namun saat remaja, mereka biasa terpisah dari kelompoknya dan suka bersuara keras untuk menarik perhatian lawan jenis.

Pemilik nama lain Wrinkled hornbill ini masuk dalam kategori Near Threatened (NT) menurut IUCN dan Appendix II oleh CITES; spesies yang mungkin terancam punah jika perdagangan terus berlanjut. Julang Jambul Hitam juga merupakan satwa yang dilindungi menurut PermenLHK No. 20 Tahun 2018.

Persebaran dan Habitat

Burung ini tergolong aktif dan memiliki kebiasaan berpindah-pindah tempat. Julang Jambul Hitam biasa ditemukan di hutan primer, hutan tepi pantai dan hutan rawa, hingga ketinggian 1.000 mdpl. Mereka tersebar di Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia; di antaranya Sumatera, Kepulauan Batu dan Kalimantan.

Identifikasi
 

Panjang tubuh Julang Jambul Hitam berukuran 65-70 cm. Jantan dan betina dapat dibedakan dari warna balungnya, di mana balung jantan berwarna merah dan balung betina berwarna kuning dengan ukuran lebih kecil. Sementara untuk paruh jantan dan betina, sama-sama berwarna kuning. Bagian tenggorokan juga memiliki variasi yaitu, sang jantan berwarna putih dan sang betina berwarna gradasi putih-biru.

Pakan

Buah-buahan dengan kandungan lemak adalah kesukaan Julang Jambul Hitam. Contohnya, buah ficus, buah dari famili Lauraceae dan Burseraceae. Burung ini juga mengonsumsi hewan jika ketersediaan buah tidak terlalu berlimpah. Jika dibandingkan dengan spesies enggang lainnya, Julang Jambul Hitam tidak terlalu banyak mengonsumsi buah ficus.

Perkembangbiakan

Saat musim berbiak, betina akan dikurung di dalam lubang sarang yang ditutup dengan campuran kotoran, tanah dan lumpur. Ketika menetas; kurang lebih berumur 10 hari, kulit anak burung berwarna merah muda dan mulai bisa membuka mata ketika berumur 19 hari.

Jantan akan membantu memecahkan dinding sarang dan betina pun akan keluar sarang. Setelah menetas, anak burung akan lebih sering diberikan makanan hewan-hewan kecil oleh orangtuanya; burung jantan, dengan dibantu oleh burung betina.

Ancaman

Hilangnya tutupan hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi hutan di Sumatera dan Kalimantan, menjadi ancaman serius. Selain itu, asap akibat kebakaran hutan juga ikut menekan populasi Julang Jambul Hitam di alam karena ia tidak menyukai habitat yang telah dirusak.

Tahukah Kamu?

Julang Jambul Hitam adalah keluarga burung yang paling nomaden, atau sangat suka berpindah-pindah tempat.