Enggang di Indonesia

Selain berjasa untuk kelestarian hutan, Enggang juga memiliki suara, fisik, dan pola perkembangbiakkan yang khas. Tiap jenis Enggang pun memberikan makna yang beragam bagi manusia. Itulah mengapa di beberapa wilayah, Enggang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Yuk jelajahi keunikan dari 13 jenis Enggang di Indonesia!

  • Satu-satunya jenis enggang yang memiliki balung atau cula (casque), yang terbuat dari keratin padat. Burung ini merupakan jenis paling terancam punah di Indonesia.

  • Pemilik nama lain Sulawesi Hornbill ini, adalah salah satu dari tiga jenis enggang endemik di Indonesia. Jika dibandingkan dengan enggang lainnya, mereka berukuran kecil.

  • Jenis burung endemik dan terbesar di antara enggang yang berada di Pulau Sulawesi. Mereka juga memiliki nama lain, Sulawesi Red-knobbed Hornbill.

  • Merupakan salah satu dari tiga jenis enggang endemik di Indonesia, yang tersebar hanya di Pulau Sumba. Burung besar ini biasa hidup di kanopi hutan.

  • Menjadi satu-satunya spesies enggang yang memiliki jambul seperti mahkota. Di hutan, mereka hidup dalam kelompok kecil; antara 3-8 individu dan kelompok besar; 20 individu.

  • Enggang besar Asia yang tersebar di Pulau Sumatera. Kebiasaannya menghabiskan hari dengan makan dan istirahat di kanopi hutan yang sedang berbuah.

  • Merupakan jenis enggang yang besar. Saat berburu, mereka akan berpasangan, tetapi terpisah hingga 300 m dan masih terhubung dengan suara panggilan.

  • Jenis kangkareng ini banyak menghabiskan waktu di kanopi hutan. Mereka adalah burung yang senang bersosialisasi dan setia dengan pasangannya.

  • Umumnya terbang bersama pasangannya ketika dewasa, atau dalam kelompok kecil; 3-30 individu. Namun saat remaja, mereka biasa terpisah dari kelompoknya dan suka bersuara keras untuk menarik perhatian lawan jenis.

  • Bersifat sosialis, burung ini biasa hidup dalam kelompok antara 2-20 individu. Kelompok burung ini banyak ditemui di bawah kanopi hutan.

  • Tersebar luas di Asia, Kangkareng Perut Putih memiliki kemampuan survival yang tinggi karena mudah beradaptasi pada habitat yang bahkan telah berubah.

  • Membutuhkan area hutan yang luas dan tidak terganggu untuk melakukan kegemarannya; menjelajah. Sehingga mereka dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat.

  • Tersebar di ujung timur Indonesia, masyarakat lokal menyebutnya Kokomo. Meski Julang Irian sering terbang bersama pasangan, namun mereka juga suka bergabung dengan kelompok yang berjumlah hingga ratusan individu.