Cerita Volunteer: Rantau Bumbun
08 November 2019

Desa Rantau Bumbun berada di Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Desa yang berada di tepi Sungai Mandai ini, dahulunya bergabung dengan Desa Nanga Raun dan memisahkan diri pada tahun 2011.  Dihiasi oleh tebing-tebing yang terjal, Desa Rantau Bumbun mayoritas dihuni oleh Suku Dayak Pangin Orung Da’an yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani ladang dengan sistem  berpindah. Selain berladang, mereka juga mencari ikan baik dengan menggunakan jala atau pancing untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Desa Rantau Bumbun di tepi Sungai Mandai yang dihiasi tebing terjal.

Masyarakat Rantau Bumbun menggantungkan hidupnya pada hasil hutan seperti rotan, kulit kayu, buah-buahan hutan dan hewan buruan. Salah satu buah hutan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi adalah durian. Ketika musim buah, biasanya masyarakat akan mengambilnya untuk dikonsumsi sendiri atau dijadikan makanan untuk ternak babi. Selain durian, kelengkeng hutan juga banyak ditemukan di pinggiran sungai.

Hal unik dari Desa Rantau Bumbun adalah adanya tiang-tiang yang terbuat dari kayu belian (Eusideroxylon zwageri) yang menancap di pinggiran sungai. Sering disebut dengan “Tiang Toras” atau “Tiang Sandung”, tiang ini ternyata memiliki nilai sakral dan religius. Bagian ujung dari tiang tersebut berbentuk lancip dengan tempayan di bagian atasnya, sedangkan di bagian badannya terdapat ukiran-ukiran khas dayak. Tiang toras ini akan ditancapkan pada saat prosesi upacara adat buang pantang, yaitu ketika salah satu keluarga atau kerabat mereka ada yang meninggal dunia. Upacara tersebut dilaksanakan selama kurang lebih 7 hari 7 malam bahkan ada yang sampai satu bulan tergantung kondisi finansial.

Tiang Toras / Sandung

Masyarakat Desa Rantau Bumbun menjadikan Sungai Mandai sebagai salah satu sumber mata pencaharian karena potensi ikan yang cukup banyak disana, diantara ikan tersebut adalah ikan semah (Tor spp.,), kenjuar (Luciosoma trinema), langkung (Hampala bimaculata). Potensi ikan yang cukup banyak ini menjadikan Sungai Mandai salah satu rekomendasi untuk spot memancing untuk masyarakat dari dalam maupun luar desa. Selain itu, riam Sungai Mandai bisa dinikmati oleh pecinta rafting, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tujuan wisata. Namun, sangat disayangkan masih banyak Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang melakukan aktivitas di sungai dan membuatnya tercemar. 

Kegiatan masyarakat di sekitar Sungai Mandai.

Banyaknya pendatang dari luar yang masuk tanpa izin, baik itu penambang emas, pemburu, maupun pembalak liar, membuat resah masyarakat Desa Rantau Bumbun. Berdasarkan laporan dari Kepala Desa Rantau Bumbun, Pak Suman, dalam satu hari ada ratusan sepeda motor yang datang parkir di dekat penyebrangan menuju desa. Mereka sama sekali tidak mengindahkan plang “Tamu Wajib Lapor” buatan desa. Saat ini mereka sedang menyusun peraturan adat terkait keresahan warga akan pendatang yang masuk tanpa izin.

Hutan kawasan Desa Rantau Bumbun memiliki potensi satwa langka seperti jenis burung rangkong. Burung ini akan mudah ditemui saat memasuki musim buah. Masyarakat di sana mempunyai sebutan yang berbeda terhadap jenis-jenis burung rangkong/enggang, seperti enggang cula (Buceros rhinoceros) yang disebut tekuan, Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) disebut tajak/tajakku, julang emas (Rhyticeros undulatus) disebut auk, enggang jambul (Berenicornis comatus) disebut motui, kengkareng hitam (Anthracoceros malayanus) disebut bri’ang, julang jambul hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus) disebut totoh dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus) disebut ragai.

Selain jenis burung rangkong, satwa lain seperti owa kelempiau (Hylobates muelleri) dan lutung merah/kelasi (Presbytis rubicunda) masih banyak dijumpai pula di sini. Apalagi jenis kelempiau ini suaranya bisa terdengar lebih dari 1 km. Setiap pagi, kelompok kelempiau ini saling bersahut-sahutan seolah menjadi alarm bagi tim untuk bergegas berangkat menuju titik pengamatan yang sudah ditentukan. Pada saat pengamatan pun, hampir setiap hari kami melihat sekawanan kelempiau dan kelasi di antara jalur penelitian. Sayangnya, tidak jarang pula terdengar suara chain saw dari orang-orang yang menebang kayu belian yang biasanya sambil berburu satwa yang ada di hutan. Kami sempat bertemu pemburu yang sedang menirukan suara rangkong gading dan membawa seekor binturung (Arctictis binturong) hasil dari jeratan mereka.

Menurut Hardiyanti tim Rangkong Indonesia, bahwa perjumpaan enggang yang cukup baik berada di hutan yang dekat dengan pemukiman. Hal ini disebabkan karena di hutan yang jauh dari pemukiman sangat rentan dengan pemburu yang bebas keluar-masuk hutan untuk memburu rangkong. Itu artinya peranan masyarakat yang ada di sekitar hutan sangat penting akan keberlangsungan hewan yang menjadi maskot Kalimantan Barat ini, karena masyarakat dapat menjadi pelindung habitat mereka dari para pemburu yang tidak bertanggung jawab.

 

 

Penulis: Rafino
Editor: Mutiara Imanda Yusuf