Peta persebaran burung rangkong di dunia

Peta persebaran burung rangkong di dunia

Keluarga burung rangkong tersebar mulai dari Afrika (30 jenis) sampai dengan wilayah Asia (32 jenis).(Josep del Hoyo et al. 2014). Di Indonesia terdapat 13 jenis , dengan tiga jenis diantaranya bersifat endemik yaitu Julang Sumba (Ryhticeros everetti) yang hanya hidup di pulau Sumba, Julang Sulawesi (Ryhticeros cassidix), dan Kangkareng Sulawesi ( Rhabdotorrhinus exarhatus) yang keduanya endemik pulau Sulawesi. Di Indonesia, kawasan Paparan Sunda memiliki keragaman jenis rangkong lebih tinggi dibandingkan kawasan Wallacea dan Papua. Pulau Sumatera menempati urutan pertama untuk keragaman jenis rangkong dengan sembilan jenis rangkong, kemudian diikuti dengan Pulau Kalimantan dengan delapan jenis. Sedangkan di pulau Jawa hanya terdapat tiga jenis. Meski hanya terdapat empat jenis di kawasan Wallacea, namun tiga jenis diantaranya bersifat endemik.

 

Daftar 13 jenis rangkong di Indonesia beserta status konservasi internasional

Nama Indonesia1 Nama ilmiah2 Nama Inggris IUCN3 CITES4
1.    Enggang Jambul Berenicornis comatus White-crowned hornbill NT II
2.    Rangkong Gading Rhinoplax vigil Helmeted hornbill CR I
3.    Enggang Papan Buceros bicornis Great hornbill NT I
4.    Enggang Cula Buceros rhinoceros Rhioceros hornbill NT I
5.    Enggang Klihingan Anorrhinus galeritus Bushy-crested hornbill LC II
6.    Kangkareng Hitam Anthracoceros malayanus Black hornbill NT II
7.    Kangkareng Perut-putih Anthracoceros albirostris Oriental pied hornbill LC II
8.    Julang Jambul-hitam Rhabdotorrhinus corrugatus Wrinkled hornbill NT II
9.    Kangkareng Sulawesi Rhabdotorrhinus exarhatus Sulawesi hornbill VU II
10.  Julang Sulawesi Rhyticeros cassidix Knobbed hornbill VU II
11.  Julang Sumba Rhyticeros everetti Sumba hornbill VU II
12.  Julang Emas Rhyticeros undulatus Wreathed hornbill LC II
13.  Julang Irian Rhyticeros plicatus Papua hornbill LC II

Catatan: 1. Penamaan Indonesia (Sukmantoro et al. 2007); 2. Nama ilmliah (Josep del Hoyo et al. 2014); 3. IUCN, 2015; CITES, 2015

morfologi

Morfologi rangkong (Kemp 1995)

Kelompok burung rangkong (julang, enggang, dan kangkareng) mudah dikenali dari ciri khas berupa paruh besar, melengkung, dan mempunyai struktur tambahan di bagian atas paruh yang disebut balung (Casque). Rangkong tergolong burung berukuran tubuh besar. Panjang total badan bervariasi antara 65-170 cm dengan berat tubuh 290-4200 gram (Kemp 1995). Umumnya, semua jenis burung rangkong mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya kedalam tenggorokan.

Badannya tertutup bulu berwarna hitam, abu-abu, dan putih, dengan sedikit variasi warna pada bagian kulit leher, kepala, dan lingkar mata. Warna bulu, warna balung, bentuk, dan ukuran balung berbeda menurut jenisnya yang dapat membantu identifikasi jenis rangkong di lapangan. Burung rangkong mempunyai karakter sexual dimorphic, yaitu antara jantan dan betina mempunyai perbedaan dalam warna dan morfologi tubuhnya. Jenis kelamin burung rangkong dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung, warna sayap, paruh, mata, dan ukuran tubuh. Burung rangkong jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina.

Selain bentuk dan ukuran, di lapangan burung rangkong mudah diidentifikasi dari suara calling dan kepakan sayapnya yang cukup keras. Suara kepakan sayap pada Julang Emas dapat terdengar sampai jarak 1 km, dan suara calling Rangkong gading yang menyerupai orang tertawa bahkan dapat terdengar sampai jarak 3 km. Balung (casque) yang terbentuk di bagian atas paruh rangkong sebagian besar memiliki struktur berongga yang diperkirakan berfungsi sebagai ruang resonansi suara (Haimoff 1987). Hanya pada Enggang gading balung yang terbentuk menjadi kompak dan padat , diperkirakan 10-13% dari berat tubuhnya berada di bagian balung dengan struktur materinya menyerupai gading gajah.

Secara taksonomi, rangkong termasuk kedalam ordo Bucerotiformes yang dapat dibedakan menjadi dua famili, yaitu Bucorvidae dan Bucerotidae. Morfologi Bucorvidae ditandai oleh ukuran tubuh yang sangat besar (berat tubuhnya 3344 -4191 gram dengan panjang sayap 512 -560 mm) dan merupakan rangkong terbesar. Seluruh tubuh ditutupi bulu berwarna hitam, kecuali bulu primer yang berwarna putih, dengan bagian ekor yang relatif pendek dan mempunyai kaki yang panjang. Anggota Bucorvidae diwakili oleh satu genus, yaitu Bucorvus yang terdiri dari dua species, hidup terestrial di savana Afrika. Rangkong ini bersifat carnivorous, lebih banyak berjalan di tanah dibandingkan terbang, bersarang di batuan dan pohon berlubang, tetapi tidak menutup sarangnya (Kemp, 1995).

julang sumba SO

Julang sumba sering teramati hidup dalam kelompok

Sementara anggota famili Bucerotidae memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar (berat tubuh 83 -3007 gram dengan panjang tubuh berkisar dari 45 sampai dengan 170 cm), mempunyai kaki yang pendek. Rangkong di Asia bersifat frugivorous (pemakan buah), tetapi dalam keadaan tertentu memakan berbagai jenis binatang misalnya tupai dan serangga. Umumnya anggota Bucerotidae hidup berpasangan dan bahkan berkelompok. Pada saat bersarang lebih menyukai pohon berlubang yang alami. Kedua famili tersebut di atas dibedakan berdasarkan atas 26 karakter anatomi seperti bentuk balung dan paruh, tingkah laku dan perkembangan keduanya serta hubungan kekerabatannya (Kemp, 1995).

Berdasarkan perbandingan secara anatomi dan studi hibridisasi DNA, burung rangkong mempunyai kekerabatan yang cukup dekat dengan kelompok burung Upupiformes yaitu burung hupo (Suku Upupidae) dan Coraciformes, yang meliputi antara lain burung rajaudang (Suku Alcenidae) dan kirik-kirik (Meropidae) (Sibley & Ahlquist, 1990). Semula jumlah jenis rangkong di dunia adalah 54 jenis, namun seiring dengan perkembangan penelitian taksonomi berbasiskan DNA, saat ini berjumlah 62 jenis, beberapa jenis yang semula merupakan anak species menjadi species sendiri (Josep del Hoyo et al. 2014).

Secara evolusi burung rangkong mempunyai kesamaan nenek moyang dengan Upupiformes dan Coraciformes berdasarkan beberapa karakteristik morfologi dan anatomi yang dimilikinya. Burung rangkong adalah satu-satunya burung yang mempunyai balung (casque) di bagian atas paruhnya yang merupakan karakter morfologi yang khas (Kemp, 1995). Karakter anatomi khas lain yang dimiliki burung rangkong adalah adanya dua ruas pertama dari tulang vertebrata (tulang yang menopang tulang tengkorak, yaitu atlas dan axis) yang menjadi satu (Bock & Andors, 1992).

Makan merupakan salah satu kegiatan penting bagi semua binatang. Perilaku semua jenis binatang selalu didominasi oleh kebutuhan akan makan. Bentuk tubuh dan tingkah laku semua jenis binatang dipengaruhi oleh alam yang menyediakan makanan secara berkelanjutan. Makanan utama burung rangkong adalah buah-buahan; paruhnya yang besar dan bengkok adalah hasil adaptasi untuk memetik dan mengambil buah-buahan baik yang berukuran besar maupun kecil. Selain buah-buahan, pada waktu tertentu burung rangkong menangkap binatang untuk memenuhi kebutuhan protein. Besar-kecilnya proporsi makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan bergantung pada jenis rangkongnya. Selain itu, Perbedaan proporsi makanan hewan dan tumbuhan juga ditemukan pada suatu jenis akibat adanya perbedaan usia, jenis kelamin dan musim berbiak (Hadiprakarsa and Kinnaird 2004; Leighton 1982). Burung rangkong di Asia umumnya bersifat frugivorous, tetapi dapat juga bersifat omnivorous terutama saat musim berbiak. (Poonswad et ai, 1996).

Saat makan buah, umumnya rangkong memperlakukan buah dengan dua cara. Pertama, memasukan dan melumat buah di dalam paruh lalu mengeluarkan bijinya dari dalam paruh setelah bagian yang lainnya ditelan. Cara kedua yaitu dengan memasukan buah (yang umumnya berbiji halus) melalui paruh ke kerongkongan, dan terus ke saluran pencernaan di dalam tubuh, lalu bijinya akan dikeluarkan bersama kotorannya (Kemp, 1995). Jenis makanannya bermacam-macam, seperti buah Connarus sp yang berhabitus liana atau buah-buahan lain dan serangga yang terdapat di habitatnya. Rangkong lebih menyukai buah yang cukup besar dari beberapa pohon besar di dalam hutan (Leighton, 1982).Sebagai burung pemakan buah, pola makan rangkong memperlihatkan aktivitas bimodal, yaitu memulainya pada pagi hari dengan frekuensi tinggi, kemudian menurun pada siang hari, dan akan meningkat kembali pada sore hari. Tinggi-rendahnya frekuensi aktivitas makan diduga dipengaruhi oleh suhu sekitar dan perubahan intensitas cahaya matahari.

Julang sulawesi menggunakan ujung paruhnya untuk memetik buah.

Ada beberapa cara yang dilakukan oleh rangkong dalam mengambil makanannya, ialah mengungkit (levering), menggali (digging), mengejar (chasing), menyambar (swooping), memungut (plucking), dan berburu (hawking). Sebelum makanan ditelan, rangkong akan memperlakukan makanannya dengan cara menghancurkan (crushing), melumatkan (softening), membawa (carrying), dan menelan (swallowing). Teknik-teknik makan diatas dapat berbarengan disesuaikan dengan jenis makanannya (Kemp, 1995). Pada umumnya rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan. Jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah.

Rangkong di Asia digolongkan sebagai hewan frugivorous, sedangkan rangkong di Afrika lebih cenderung mengandalkan makanannya dari serangga. Menurut Leighton (1982), dalam pengamatannya terhadap tujuh species rangkong di Kalimantan Timur, buah-buahan yang menjadi sumber pakan dikelompokkan ke dalam tiga tipe makanan, yaitu: drupaceus (buah berdaging) yang banyak mengandung lemak , husked (buah berkulit keras), dan fig (ficus) yang banyak mengandung air, karbohidrat, protein, dan kalsium. Dari penelitian terhadap species pakan rangkong di Asia dan Afrika diketahui bahwa ficus merupakan sumber pakan yang potensial bagi rangkong sebagai pakan utama (Hadiprakarsa and Kinnaird 2004; Leighton 1982), atau sebagai pakan pengganti (Kannan and James 2007), tergantung pada species rangkong, musim berbiaknya, dan komposisi vegetasi di habitatnya (Kinnaird and O’Brien 2005). Rangkong gading di Indonesia sebagian besar (98%) pakanya berupa buah ficus, dan binatang kecil sisanya (Hadiprakarsa and Kinnaird 2004). Rangkong di Thailand (Asia) dilaporkan juga memakan lumut kerak, jamur, mamalia kecil, burung kecil, reptil, dan serangga (Poonswad et al. 1988).

Kemp (1995) mengemukakan, pakan berupa binatang mempunyai kandungan protein tinggi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan perkembangan fisiologi. Protein penting untuk perkembangan jaringan tubuh, terutama pada waktu pembentukan telur. Untuk maksud yang sama beberapa species rangkong khususnya genus Anthracocceros dan Aceros juga memakan kepiting atau ikan kecil, dan kelabang. Buah­-buahan yang bergetah juga dikonsumsi pada masa berbiak sebagai material penutup sarang (Poonswad et al. 2004).

Julang sumba jantan menghantarkan makanan ke sarang

Semua species rangkong Asia bersarang pada pohon berlubang (Kemp, 1993), sehingga bergantung sepenuhnya pada alam untuk mendapatkan sarang. Meski memiliki postur paruh yang besar dan meruncing, rangkong tidak dapat membuat lubang sarang. Lubang sarang yang digunakan terbentuk akibat proses alami yang panjang, dimulai dari patahan cabang pohon maupun bekas lubang akibat satwa lain, seperti beruang madu, yang kemudian dibarengi oleh proses pelapukan (Poonswad 1995). Berdasarkan penelitian di Thailand dan Indonesia, umumnya pohon berlubang yang digunakan sebagai sarang rangkong berdiamater batang diatas 45 cm dengan tinggi lubang sarang dari tanah berkisar antara 20 sampai 50 meter (Poonswad 1995; Poonswad et al. 2005; Poonswad et al. 1983). Keterbatasan jumlah lubang pohon yang sesuai untuk bersarang, membuat sebuah lubang sarang akan digunakan berkali-kali, baik oleh species rangkong yang sama maupun species berbeda, selama kondisi lubang sarang tersebut masih dalam keadaan baik. Kondisi ini menjadikan kompetisi lubang untuk bersarang cukup tinggi dalam komunitas rangkong. Diantara species rangkong, Enggang gading memiliki persyaratan lobang sarang yang paling spesifik, yaitu berupa keberadaan bonggol atau dahan besar di dekat lobang sarang yang akan digunakan sebagai pijakan saat hinggap untuk menghantarkan makanan kedalam sarang.

Keberadaan lobang pada pohon merupakan bagian dari proses pelapukan, sehingga tingkat kerusakan lobang dan pohonya cukup tinggi. Poonswad et al. (2005), menemukan sekitar 80% lobang sarang yang di gunakan rangkong mengalami kerusakan, berupa amblasnya lantai sarang dan hilangnya cabang untuk pijakan. Selain itu, minimnya ketersediaan lobang pohon untuk sarang rangkong juga disebabkan oleh robohnya pohon sarang. Diperkirakan sekitar 90% pohon sarang Enggang gading di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hilang akibat robohnya pohon sarang (Hadiprakarsa pers. obs.)

Siklus bersarang rangkong bervariasi untuk setiap lokasi karena menyesuaikan dengan faktor-faktor lingkungan yang memicu siklus berbiak. Kinnaird dan O’Brien (1999) menemukan bahwa Rangkong Sulawesi memulai proses berbiaknya di penghujung musim hujan. Selain itu, ketersediaan pakan berupa buah juga dapat memicu proses berbiak rangkong.

Pada masa bersarang rangkong betina akan menutup dirinya dalam lobang sarang untuk mengerami telur. Lobang sarang tersebut akan ditutup pada bagian luarnya dengan tanah, lumpur, sisa makanan, dan kotoran sehingga terlindung dari predator dan kondisi lingkungan di luar sarang (Kemp, 1995). Poonswad (1993) mengemukakan perbedaan wilayah dapat mempengaruhi perbedaan waktu perkembangbiakan pada rangkong. Masa pengeraman telur setiap species rangkong bervariasi, mulai dari 25 hari untuk rangkong ukuran kecil sampai dengan 150 hari untuk rangkong yang berukuran besar. Julang emas diketahui memiliki masa pengeraman selama 40 hari, sedangkan Rangkong badak selama 37 hingga 46 hari, dan Enggang gading diketahui memiliki masa berbiak terpanjang, yaitu 150 hari (Liewvirikayit et al. ; Poonswad 1995).

Total waktu perkembangbiakan rangkong berkisar antara tiga sampai enam bulan. Beberapa jenis rangkong akan melakukan pergantian bulu (moulting) pada masa awal bersarang (mengerami telur) kemudian akan tumbuh kembali pada saat keluar dari sarang. Poonswad (1993) menyatakan bahwa terdapat lima tahapan proses bersarang pada rangkong yaitu :
1. Tahap pre-nesting yaitu periode perkawinan. Ditunjukkan dengan usaha menemukan sarang (termasuk mengunjungi sarang) sebelum betina terkurung, berlangsung antara satu sampai tiga minggu.
2. Tahap pre-laying yaitu masa betina mulai terkurung sampai peletakan telur pertama, selama satu minggu. Periode aman bagi rangkong untuk mengeluarkan telurnya (Kemp 1995).
3. Tahap egg incubation yaitu masa peletakkan telur pertama sampai telur pertama menetas, selama enam minggu. Pada Kangkareng perut putih hanya berlangsung selama empat minggu.
4. Tahap nesting yaitu masa dari induk betina keluar dari sarang (lobang sarang ditutup kembali) hingga anak memiliki bulu lengkap dan siap untuk terbang, berlangsung selama 8 – 13 minggu.
5. Tahap fledging yaitu masa dari pemecahan penutup sarang sampai semua anak keluar, memerlukan waktu dari hitungan beberapa jam hingga dua minggu, jika anak lebih dari satu.

Pada saat bersarang rangkong betina terkurung di dalam lubang pohon yang ditutupi dengan material dari tanah dan sisa makanannya, hanya menyisakan lubang kecil yang berfungsi untuk mengambil makanan yang diantarkan oleh pasangannya atau anggota kelompoknya. Selain itu juga untuk menjaga sanitasi sarang dengan membuang kotorannya lewat lubang tersebut (Kemp 1995).

Rangkong adalah Petani yang tangguh di hutan karena kehebatannya menebar benih dan biji tanaman hutan. Daya jelajahnya yang dapat mencapai hampir 100 ribu hektar, membuat rangkong tak tertandingi. Kesaktian daya jelajahnya membantu kita untuk tidak perlu repot-repot menanam pohon di hutan, karena regenerasi hutan sangat terbantu oleh rangkong.
Kehadiran rangkong berkaitan erat dengan hutan yang sehat. Rangkong membutuhkan beragam pohon buah sebagai pakannya dan pohon besar dan sehat untuk sarangnya. Kehadiran rangkong di hutan menunjukkan bahwa pepohonan besar masih ada di rimba tersebut. Dengan kata lain, pohon sehat yang batangnya kokoh akan hidup bahagia di hutan yang terjaga kondisinya. Menjaga rangkong berarti menjaga hutan dan menjaga emisi karbon tidak meningkat karena hilangnya hutan.
Rangkong sangat erat hubungannya dengan budaya masyarakat Indonesia. Relief burung rangkong yang ditemukan di Candi Prambanan menjadi salah satu penanda. Selain itu, masyarakat dayak di Kalimantan menganggap rangkong sebagai lambang kesucian, kekuatan dan kekuatan. Masyarakat dayak kerap berkomunikasi dengan leluhur melalui perantaraan rangkong. Masyarakat dayak mempercayai bahwa konon roh alam yang melindungi Pulau Kalimantan dan masyarakat Dayak sering menampakkan diri dalam wujud rangkong raksasa, yang dikenal dengan nama Panglima Burung. Beberada daerah di Indonesia telah menjadikan rangkong sebagai maskot kebanggaan daerah, sebut saja Enggang gading untuk maskot Kalimantan Barat dan Julang Sulawesi untuk Sulawesi Selatan.

heart and oulheart and oulheart and oul

Semua jenis rangkong di Indonesia termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi.
Dari 13 jenis rangkong di Indonesia, satu jenis berada dalam status Critically Endangered (CR) yang berarti berada dalam kondisi kritis, tiga jenis berstatus Vulnerable (VU) yang berarti berada dalam kondisi rentan, empat jenis berstatus Near Threatened (NT) yang berarti dalam kondisi mendekati terancam punah dan lima jenis berstatus Least Concern (LC) yang berarti belum masuk dalam daftar satwa terancam punah.
Rangkong gading (Rhinoplax vigil) adalah jenis yang telah berstatus Critically Endangered (CR). Status yang menempatkan Rangkong gading pada posisi satu tahap menuju status punah. Status Enggang Gading melejit hanya dalam beberapa tahun terakhir dari Near Threatened (NT) menjadi Critically Endangered (CR) akibat maraknya perburuan dan hilangnya hutan sebagai habitat hidupnya.

tnbbr_hh_abduh_2012_3

Perburuan Rangkong gading. Kurang lebih 6.000 Rangkong gading dibantai setiap tahun di Kalimantan barat untuk diambil gadingnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Konversi hutan untuk perkebunan sawit.

brhead_nanang

Semua jenis rangkong diburu untuk dikonsumsi dagingnya.

Hadiprakarsa, Y., Kinnaird, M.F., 2004. Foraging characteristics of an assemblage of four Sumatran hornbill species. Bird Conservation International 14, S53-S62-S53-S62.
Haimoff, E.H., 1987. A spectrographic analysis of the loud calls of Helmeted Hornbills Rhinoplax vigil. Ibis 129, 319-326.
Josep del Hoyo, Nigel J. Collar, David A. Christie, Andrew Elliott, Fishpool, L.D.C., 2014. HBW and BirdLife International Illustrated Checklist of the Birds of the World. Volume 1. Lynx Edicions in association with BirdLife International.
Kannan, R., James, D.A., 2007. Phenological studies of hornbill fruit trees in tropical rainforest: methodologies, problems and pitfalls.
Kemp, A.C., 1995. The Hornbills. Oxford University Press New York.
Kinnaird, M.F., Hadiprakarsa, Y.Y., Thiensongrusamee, P., 2003. Aerial jousting by Helmeted Hornbills Rhinoplax vigil: observations from Indonesia and Thailand. Ibis 145, 506-508.
Kinnaird, M.F., O’Brien, T.G., 1999. Breeding ecology of the Sulawesi Red-Knobbed Hornbill Aceros cassidix. Ibis 141, 60-69.
Kinnaird, M.F., O’Brien, T.G., 2005. Fast Foods of The Forest: The Influence of Figs on Primates and Hornbills Across Wallace’s Line, pp. 155-184-. Springer.
Leighton, M., 1982. Fruit Resources and Patterns of Feeding, Spacing and Grouping Among Sympatric Bornean Hornbills (Bucerotidae), pp. -. University of California, Davis.
Liewvirikayit, R., Poonswad, P., Kutintara, U., Nest and Environment, pp. 19-37-. Hornbill Research Foundation, Thailand.
Poonswad, P., 1995. Nest site characteristics of four sympatric species of hornbills in Khao Yai National Park, Thailand. Ibis 137, 183-191.
Poonswad, P., Sukkasem, C., Phataramata, S., Hayeemuida, S., Plongmai, K., Chuailua, P., Thiensongrusame, P., Jirawatkavi, N., 2005. Comparison of cavity modification and community involvement as strategies for hornbill conservation in Thailand. Biological Conservation 122, 385-393.
Poonswad, P., Tsuji, a., Jirawatkavi, N., 2004. Estimation of nutrients delivered to nest inmates by four sympatric species of hornbills in Khao Yai National Park, Thailand. Ornithological Science 3, 99-112.
Poonswad, P., Tsuji, A., Ngarmpongsai, C., 1983. A study of the breeding biology of hornbills (Bucerotidae) in Thailand. International Foundation for the Conservation of Birds.
Poonswad, P., Tsuji, A., Ngarmpongsai, C., 1988. A comparative ecological study of four sympatric hornbills (Family Bucerotidae) in Thailand. Acta XIX congressus Internationalis Ornithologi 2, 2781-2791.
Sukmantoro, W., Irham, M., Novarino, W., Hasudungan, F., Kemp, N., Muchtar, M., 2007. Daftar Burung Indonesia No. 2. Indonesian Ornithologist Union – IdOU.
Bibby, C. J., N. D. Burgess, D. A. Hill, and S. H. Mustoe. 2000. Bird census technique, Second edition edition. Academic Press, London.
Kemp, A., M. Kemp, and S. Thong-Aree. 2011. Use of lookout watches over forest to estimate detection, dispersion and density of hornbills, Great Argus and diurnal raptors at Bala forest, Thailand, compared with results from in-forest line transects and spot maps. Bird Conservation International 21:394-410.
Marsden, S. J. 1999. Estimation of parrot and hornbill densities using a point count distance sampling method. Ibis 141:327-390.