Meneropong Nasib Rangkong dalam Bingkai Ekowisata

Hutan Sungai Utik dengan luas 9.452,5 Ha merupakan habitat untuk spesies Rangkong. Keberadaan populasi Rangkong di hutan Sungai Utik menjadi kekhawatiran bagi warga akibat maraknya pemburu dari luar Sungai Utik. Terbatasnya sumber daya manusia (SDM) di sana menjadi tantangan tersendiri bagi warga untuk melakukan pemantauan hutan secara terus menerus, padahal pemantauan itu harus dilakukan agar mereka mampu menghentikan perburuan Rangkong.

Warga Sungai Utik selama ini telah dikenal oleh banyak pihak karena kesuksesannya menjaga hutan mereka. Semakin menggema kesuksesan tersebut membuat banyak orang penasaran dengan kekayaan isi hutannya. Ancaman masuknya pemburu dari desa-desa sebelah pun tak mampu dikendalikan, padahal untuk memasuki hutan Sungai Utik harus permisi terlebih dahulu kepada warga Sungai Utik. Mereka memiliki sanksi adat bagi orang yang akan masuk hutannya tanpa izin terlebih dahulu.

Sejak tahun 2012, dusun Sungai Utik menggeliat  sebagai destinasi budaya dan wisata alam. Hal ini dipengaruhi kecenderungan wisatawan yang ingin menikmati suasana damai dan tidak serumit kehidupan kota. Wisatawan lebih menginginkan suasana desa yang alami, masyarakat yang masih kental akan tradisi dan budayanya, kearifan lokal dalam pemanfaatan alam, dan kehidupan satwa liarnya. Dusun Sungai Utik menjadikan semua potensi yang dimilikinya sebagai modal untuk ditawarkan kepada wisatawan. Potensi pariwisata yang dimiliki Dusun Sungai Utik pun akhirnya mampu menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi dalam hal keterbatasan SDM untuk memantau kawasan hutan.

Menjabat sebagai ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Herkulanus Edmundus memanggul tanggung jawab memanggil wisatawan untuk berkunjung ke Dusun Sungai Utik. Terbatasnya jaringan komunikasi dan listrik, membuat pekerjaan ini menjadi sulit dijalankan oleh pria kelahiran Sungai Utik ini.

“Kami  rasanya sudah lama ndak pernah dengar bunyi rangkong, padahal dulu bunyi rangkong ada di pinggir-pinggir ladang,  kami ndak pernah bunuh Rangkong habis-habisan, kemungkinan orang di luar Utik yang berburu Rangkong” terang Mundus.

Rangkong Indonesia mengajak warga Sungai Utik untuk menjadi pemantau hutan Sungai Utik dan mencegah perburuan Rangkong. Dengan melibatkan masyarakat lokal, Rangkong Indonesia percaya bahwa upaya konservasi Rangkong akan menjadi lebih efektif.

Menjaga hutan bukan hanya menjaga rimbun pohonnya saja, tetapi ada pula kehidupan satwa liar yang perlu dijaga, mengingat mereka memiliki peran penting dalam menjaga fungsi ekologi. Dengan menjaga hutan dan seluruh makhluk hidup yang menghuni hutan, manfaatnya akan dirasakan terus-menerus sepanjang generasi. Jika kelestarian burung Rangkong terjaga, maka ini bisa dijadikan aset baru bagi warga Sungai Utik untuk mempromosikan potensi alamnya.

Post a comment